Budaya lisan saat ini tetap lestari keberadaannya di masyarakat. Budaya lisan ini terbukti dengan adanya beragam cerita atau dongeng tersendiri, diceritakan dari generasi ke generasi berikutnya. Sebagai contoh yaitu Dongeng Kancil, Malin Kundang, Terjadinya Danau Toba, Kisah Tangkuban Perahu, dan masih banyak dongeng yang lainnya. Hal ini menunjukkan betapa dahulu kala budaya lisan sudah dikenal oleh masyarakat dan telah dijalani dengan baik dan tetap bertahan sampai sekarang.
Dewasa ini dalam dunia pendidikan masih ada pola pembelajaran sentralistik klasikal, dimana guru atau tutor merupakan orang yang dianggap “serba tahu”. Proses pembelajaran yang selalu berdasarkan cerita atau penjelasan dari guru dan tutor masih dominan dilakukan. Demikian juga proses pembelajaran yang dilakukan di rumah, orang tua seringkali terlalu kaku atau kurang fleksibel dalam memberikan nasehat, komunikasi yang dilakukan cenderung satu arah. Anak-anak hanya mendengar, dan wajib mendengar dengan baik atas ucapan orang tuanya tanpa adanya suatu argumentasi yang dapat muncul.
Budaya lisan juga dikenal sebagai budaya pandang dengar. Televisi juga merupakan bentuk kedua budaya ini, kebanyakan orang lebih suka mengikuti berita di televisi daripada membaca koran. Seperti halnya sebagai contoh konkret, meskipun telah diumumkan secara tertulis di papan pengumuman, orang merasa belum diberi tahu bila belum diumumkan secara lisan.