Pages

Subscribe:

Minggu, 21 September 2014

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar
            A.        Pengertian Diagnosis
            Diagnosis merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen (1955:530-532), diagnosis dapat diartikan sebagai:
(1)               Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang di alami seseorang dengan melalui pengujin dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya (symptons);
(2)               Studi yang saksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
(3)               Keputusan yang dicapai yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.
Dari ketiga pengertian di atas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implicit telah tersimpul pula konsep prognosisnya. Dengan demikian, di dalam pekerjaan diagnostic bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga menimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan (predicting) kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.[1]
 B.       Pengertian kesulitan belajar
Menurut Burton (1952:622-624) mengidentifikasi seorang siswa dapat dipandang atau dapat diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan menunjukkan kegagalan (failure) tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar didefinisikan oleh Burton sebagai berikut:
(1)               Siswa dikatakan gagal jika dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan (level of mastery) minimal dalam pelajaran tertentu.
(2)               Siswa dikatakan gagal jika yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya; inteligensi, bakat).
(3)               Siswa dikatakan gagal jika bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian social sesuai dengan pola organismiknya pada fase perkembangan tertentu.
(4)               Siswa dikatakan gagal jika yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya.
Dari keempat definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa seorang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kwalitas hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran criteria keberhasilan atau ukuran tingkat kapasitas atau kemampuan dalam program pelajaran time allowed dan atau tingkat perkembangannya).
C.        Diagnostik Kesulitan Belajar
Dengan mengkaitkan kedua pengertian dasar diatas, kita dapat mendefinisikan diagnostic kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesuliatn belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/informasi selengkap dan subyektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternative kemungkinan pemecahannya.
D.        Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Secara umum langkah-langkah pelaksanakan diagnostic kesulitan belajar selaras dengan langkah-langkah pelaksanaan bimbingan belajar. Namun secara khusus, langkah-langkah diagnostic kesulitan belajar itu dapat diperinci lebih lanjut, mengingat pada hakikatnya hanya merupakan salah satu bagian atau jenis layanan bimbingan belajar.
Burton (1952:640-652) mengatakan berdasarkan kepada teknik dan instrument yang digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut:

(1)               General Diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya untuk menemukan saipakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
(2)               Analystic Diagnostic
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan adalah tes diagnostic. Sasarannya untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
(3)               Psychological diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrument yang digunakan antara lain:
(a)    Observasi (observation);
(b)   Analisis karya tulis (analysis of written work);
(c)    Analisis proses dan respons lisan (analysis of oral responses and account of procedures);
(d)   Analisis berbagai catata objektif (analysis of objectives record of various types);
(e)    Wawancara (interview);
(f)    Pendekatan laboratories dan klinis (laboratory and clinical methods);
(g)   Studi kasus (case studies);
Sasaran kegiatan diagnosis pada langkah ini pada dasarnya ditujukan untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan.[2]
2.2       Faktor-Faktor Kesulitan Belajar
            Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam yaitu:
1.                  Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri.
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni:
a)      Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa;
b)      Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
c)      Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar (mata dan telinga).
2.                  Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa.
Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar. Faktor ini dap
at di bagi menjadi tiga macam, yaitu:
a)      Lingkungan keluarga, contohnya: ketidak harmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
b)      Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
c)      Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkwalitas rendah.[3]

2.3              Mengidentifikasikan Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Pada dasrnya bila kesulitan belajar terjadi, latar belakangnya akan bersumber kepada komponen-komponen yang berpengaruh atas berlangsungnya proses belajar-mengajar sendiri. Menurut Loree (1970:121-133) ada tiga macam yang mempengaruhi proses belajar-mengajar yaitu:
a.                               Stimulus atau learning variables, mencakup:
1)      Learning experience variables, antara lain mengenai:
(a)    Method variables, yang antara lain menyangkut:
v    Kuat lemahnya motivasi untuk belajar;
v    Intensif tidaknya bimbingan guru;
v    Ada tidaknya kesempatan berlatih atau berpraktik;
v    Ada tidaknya upaya dan kesempatan reinforcement.
(b)   Task variables yang mencakup
v    Menarik tidaknya apa yang harus dipelajari dan dilakukan;
v    Bermakna tidaknya (meaningfulness) apa yang dipelajari dan dilakukan;
v    Sesuai tudaknya (appropriatness); panjang (length) atau luasnya (width) serta tingkat kesukaran apa yang harus dipelajari dan dikerjakan.
2)      Environmental variables, menyangkut iklim belajar yang bergantung pada faktor-faktor:
v    Tersedia tidaknya tempat atau ruangan (space) yang memadai;
v    Cukup tidaknya waktu, serta tepat tidaknya penggunaan waktu tersebut untuk waktu belajar;
v  Harmonis tidaknya hubungan manusiawi baik di sekolah, di rumah maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas.
b.                              Organismic variables yang mencakup:
1)      Characteristic of the learners, antara lain tingkatan intelegensi, usia dan taraf kematangan, jenis kelamin, kesiapan dan kematangan untuk belajar. Dengan demikian kelemahan sering disebabkan oleh:
(a)    Kurangnya kemampuan dan keterampilan kognitif;
(b)   Terbatasnya kemapuan, menghimpun, dan mengintegrasikan informasi;
(c)    Kurang gairah belajar karena kurang jelasnya tujuan/inspirasi.
2)      Mediating processes, kondisi yang lazim terdapat dalam diri swasta antara lain inteligensi, persepsi, motivasi, dorongan, lapar, takut, cemas, kesiapan konflik, tekanan bathin, dan sebagainya turut berperan pula dalam proses berprilaku termasuk prilaku belajar.
c.                   Response variables, sebagaimana kita kelompokkan berdasarkan tujuan-tujuan pendidikan yaitu:
1)      Tujuan-tujuan kognitif, seperti pengetahuan, konsep-konsep, keterampilan pemecahan masalah;
2)      Tujuan-tujuan afektif, seperti sikap-sikap, nilai-nilai, minat, dan apresiasi;
3)      Tujuan-tujuan pola-pola bertindak, antara lain:
v  Keterampilan psikomotoris, seperti menulis, mengetik, kegiatan pendidikan jasmani atau olhraga, melukis, dan sebagainya;
v  Kompetensi-kompetensi untuk menyelenggarakan pertemuan, berpidato, memimpin diskusi, pertunjukan, dan sebagainya;
v  Kebiasan-kebiasaan berupa kebiasaan hidup sehat, keamanan, kebersihan, keberanian disertai kesopanan, ketegasan, ketekunan, kejujuran, kerapian, keserasian, dan sebagainya.[4]

2.4                          Mengidentifikasikan Pemecahan Kesulitan Belajar
Banyak alternative yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut:
1                    Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
2                    Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
3                    Menyususn program perbaikan, khususnya program remedial teching (pengajaran perbaikan).
Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan, antara lain:
A.    Analisis hasil diagnosis
Data dan informasi yang diperoleh guru malalui diagnostic kesulitan belajar tadi perlu dianalisis sedemikian rupa, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti.
B.     Menentukan kecakapan bidang bermasalah
Berdasarkan hasil analissis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memelukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam:
1.                  Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
2.                  Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orangtua.
3.                  Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orangtua.
Bidang kecakapan yang tidak dapat ditangani atau terlalu sulit untuk ditangani baik oleh guru maupun orangtua dapat bersumber dari kasus-kasus tunagrahita (lemah mental) dan kecanduan narkotika. Mereka yang termasuk dalam lingkup dus macam kasus yang bermasalah berat ini dipandang tidak berketerampilan (unskilled people). Pleh karenanya, para siswa yang mengalami kedua masalah kesulitan belajar yang berat tersebut tidak hanya memerlukan pendidikan khusus, tetapi juga memerlukan perawatan khusus.
C.     Menyususn program perbaikan
Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut:
1.                  Tujuan pengajaran remedial.
2.                  Materi pengajaran remedial.
3.                  Metode pengajaran remedial.
4.                  Alokasi waktu pengajaran remedial.
5.                  Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.
D.    Melaksanakan program perbaikan
Kapan dan dimana program pengajaran remedial yang telah dirancang itu dapat anda laksanakan? Pada prinsipnya, program pengajaran remedial itu lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bisa dimana saja, asal tempat itu memungkinkan siswa klien (siswa yang memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut. Namun patut dipertimbangkan oleh guru pembimbing kemungkinan  digunakannya ruang Bimbingan dan Penyuluhan yang tersedia di sekolah dalam rangka mendayagunakan ruang BP tersebut.
Selanjutnya, untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai alternative-alternatif kiat pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan empelajari buku-buku khusus mengenai bimbingan dan penyuluhan. Selain itu, guru juga dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai dengan alternative lain atau pendukung cara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.[5]




[1] Prof  Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, MA. Psikologi kependidikan, (Rosda karya:Bandung), hlm.307
[2] Prof  Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, MA. Psikologi kependidikan, (Rosda karya:Bandung), hlm 311
[3] Muhibbin Syah, Psikologo Pendidikan,(Rosdakarya; Bandung), hlm.173
[4] Prof  Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, MA. Psikologi kependidikan, (Rosda karya:Bandung), hlm 323-325
[5] Muhibbin Syah, Psikologo Pendidikan,(Rosdakarya; Bandung), hlm. 175-178

2 komentar:

Siha Maniez mengatakan...

jos bro...

Wyne Dandy mengatakan...

aku suka dgn bahasan ini

Posting Komentar